Kamis, 26 Februari 2015

BENARKAH BUMI BULAT ?




Gambar : Bumi dengan satelitnya (NASA)

Semua benda akan cenderung berbentuk bulat jika ukurannya cukup besar sehingga gravitasinya lebih dominan daripada gaya untuk mempertahankan bentuknya. Bentuk bulat terjadi karena pada bentuk ini tercapai keseimbangan pada gaya gravitasi. Sebagai contoh yaitu bumi. Jika suatu saat bumi hancur sebagian akibat tertabrak komet atau yang sejenisnya sehingga bumi menjadi cekung seperti roti yang tergigit, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama bumi akan bergejolak dan membentuk kembali bumi yang bulat, akibat gaya tarik gravitasi yang tidak seimbang. Namun, benarkah bumi itu bulat? 

JAWABAN 

Bumi semakin membesar di bagian khatulistiwa. Fakta ini  terungkap dari penelitian data yang dikumpulkan oleh satelit Gravity Recover and Climate Experiment (GRACE) milik NASA dan German Space Agency. Disebutkan, bertambahnya penumpukan di khatulistiwa itu disebabkan oleh mencairnya lapisan es di Greenland dan Antartika.

Menurut Steve Nerem, ilmuan asal University of Colorado, USA, hingga 22 ribu tahun lalu, es hingga beberapa kilometer menyelimuti sebagian besar belahan utara bumi. Berhubung tekanan akibat bobot es di daratan telah berkurang karena mencair, tanah di bawahnya telah memantul dan menyebabkan bumi menjadi lebih lonjong. "Mirip dengan spons, dan dibutuhkan waktu yang cukup lama agar bumi kembali ke bentuk semula," kata Nerem.

Sebagai informasi, sejak awal, planet bumi memang tidak bulat sempurna akibat rotasinya, sehingga menyebabkan air di permukaan bumi lebih banyak terkumpul di kawasan khatulistiwa dibandingkan di daerah kutub. 

Para ilmuwan sendiri mengamati terjadinya "penyusutan lemak" di lingkar khatulistiwa. Akan tetapi, kemudian terjadi perubahan. Di sekitar pertengahan 1990-an, diketahui bahwa tren telah berbalik dan Bumi kembali tambah "gendut di lingkar pinggangnya", sama seperti bola yang ditekan dari atas dan bawahnya. Namun mereka tidak memiliki alat untuk memastikan mengapa hal itu bisa terjadi, hingga baru-baru ini.

Dengan GRACE, peneliti dapat menguji coba teori yang menyatakan bahwa hilangnya es merupakan faktor pengubah bentuk planet Bumi. GRACE mengambil gambar dari permukaan Bumi setiap 30 hari sehingga memungkinkan peneliti memantau perubahan massa es terhadap perubahan gravitasi. Jadi, jika ada perubahan terhadap bentuk Bumi, maka akan ada perubahan terhadap distribusi massa. Akibatnya, medan gravitasi juga berubah.

Peneliti menemukan, mencairnya gletser di Greenland dan Kutub Selatan merupakan kontributor terbesar terhadap membengkaknya "lingkar pinggang" Bumi karena banyak air yang dibawa ke khatulistiwa. Menurut data, dua belahan Bumi kehilangan 382 miliar ton es per tahunnya. Berkurangnya beban yang perlu ditanggung benua memungkinkan tanah untuk naik dan membuat planet menjadi lebih bulat, namun proses ini membutuhkan waktu ribuan tahun. Sementara itu, pertumbuhan ketebalan di khatulistiwa mencapai 0,7 sentimeter per dekade.

Saat ini, kata Nerem, radius planet Bumi 21 kilometer lebih besar di khatulistiwa dibandingkan di kutub. Artinya, titik paling jauh permukaan Bumi dari inti Bumi bukanlah di puncak gunung Everest, melainkan di puncak gunung berapi di Ekuador yang lebih dekat ke khatulistiwa

Para peneliti baru saja mendapati bahwa satelit tetap berada di orbit berkat bantuan bentuk bumi yang agak lonjong. Seperti diketahui, planet kita saat ini diselimuti oleh lebih dari 1000 satelit yang masih aktif dan ribuan ton sampah luar angkasa. Dan sebagian besar di antaranya masih tetap berada di sana dengan tenang. Yang mengejutkan, baru saat ini kita mengetahui alasan di balik itu.

Namun, dibalik ketidak bulatan bentuk bumi, hal inilah yang menjadikan penyelamat bagi bumi dari jatuhnya satelit bumi yaitu bulan.

Menurut simulasi komputer dan analisis yang dilakukan oleh Scott Tremaine dari Institute for Advanced Study in Princeton, New Jersey dan Tomer Yavetz dari Princeton University, gravitasi dari bagian bumi yang gemuk itu menjaga satelit (bulan) tertarik oleh gravitasi bumi sehingga berpindah dari posisinya.

Gambar : Bumi (NASA)

Jika bumi memiliki bentuk bulat sempurna, banyak di antara satelit itu akan jatuh ke atmosfer dan terbakar dalam hitungan bulan atau tahun saja.

"Sangat menarik jika melihat ada banyak hal yang bisa mengganggu stabilisasi orbit rendah Bumi, tetapi ada kombinasi banyak hal yang membuat kita bisa memiliki kondisi yang baik untuk satelit-satelit," kata Gregory Laughlin, fisikawan dari University of California Santa Cruz.

Sumber: Diolah dari berbagai sumber

http://adf.ly/15oooI

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum
    heeee apik.an tekmu.
    bisa membuat pintar.
    artikelmu apik-apik :D

    BalasHapus